Kritik dan Saran dalam Pembangunan Kelas Sosial
SMA Negeri 1 Metro
Kami siswa/siswi Sosial SMA Negeri 1 Metro Mengharapkan perubahan kelas Sosial SMA Negeri 1 Metro. Bagi kami, Kelas Sosial butuh perbaikan dan penambahan fasilitas karena membuat proses belajar menjadi kurang kondusif untuk siswa/siswi maupun guru yang mengajar.
Dilihat dari berbagai hal, kelas Sosial kurang diperhatikan daripada kelas lainnya. Seperti kipas angin yang rusak, jendela yang retak/pecah, meja dan kursi yang rusak,dinding yang kotor karena ulah siswa/siswi yang kurang sadar diri, dan masalah yang lainnya. Memang, sebagian dikarenakan kurangnya kesadaran diri siswa/siswi. Tetapi apabila keadaan kelas yang benar-benar bagus dan rapih. Maka, kami siswa/siswi Sosial akan sebisa mungkin atas kesadaran sendiri akan menjaga apa yang telah SMA Negeri 1 berikan untuk pembangunan kelas Sosial.
Saran kami yang hanya siswa/siswi untuk pembangunan kelas Sosial agar membuat proses belajar kondusif hanyalah saran. Tetapi kami harap, saran kami dapat diterima dengan baik dan akal sehat.
Menurut kami, siswa/siswi Sosial banyak yang mencorat-coret dengan gambar dan tulisan yang tak sopan karena mereka kurang bisa melampiaskan kegemaran mereka. Itu disebabkan tidak adanya tempat untuk menuangkannya, sehingga budaya corat-coret di SMA Negeri 1 Metro terus ada walaupun dinding telah dicat/dibersihkan kembali. Daripada hal ini terus berlanjut, saran kami adalah diadakannya kelas kesenian. Dimana siswa/siswi dapat menuangkan semua kreasi mereka tanpa dibatasi dalam kelas tersebut. Bila kelas tersebut tidak dapat dibuat, bisa saja dinding didalam/diluar/dibelakang kelas yang daripada dicorat-coret dengan gambar dan tulisan yang kurang sopan, bisa dibuat sebagai tempat untuk menuangkan kreasi siswa/siswi seperti Grafity. Tetapi dalam Grafity tersebut, tema yang diangkat adalah pendidikan atau pesan agar siswa/siswi giat belajar. Sehingga keadaan didalam kelas tidak monoton, yang bisa membuat siswa/siswi menjadi lebih senang belajar.
Fasilitas-fasilitas didalam kelas Sosial juga lebih kurang daripada kelas lainnya. Kami berharap kipas yang rusak dapat diganti dengan yang baru.bila keadaan cuaca panas, siswa/siswi tidak dapat konsen untuk belajar dan memperhatikan guru mengajar.apabila ditambah dengan keadaan kelas yang kurang kondusif (dilihat dari fasilitas) maka hal-hal ini membuat siswa/siswi tambah tidak ada kemauan untuk belajar ataupun mendengarkan guru belajar.
Hal-hal diatas hanyalah kritik dan saran dari kami. Kami berharap SMA Negeri 1 Metro dapat menerima kritik dan saran kami apabila kritik dan saran kami dapat membantu untuk pembangunan kelas sosial SMA Negeri 1 Metro agar lebih baik dengan menggunakan aspirasi dari warga SMA Negeri 1 Metro. Kami minta maaf apabila kritik dan saran tidak berkenan dihati. Dan kami ucapakan terima kasih atas perhatiannya.
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 November 2009
artikel untuk sekolah
Menuju Sekolah Bertaraf Internasional??
“Ya Allah, capek banget nih pulang sore terus…”
“Ia, hampir enggak ada waktu untuk santai.”
“Pulang sore, trus les, trus masih ngerjain tugas, belum lagi belajarnya.”
“Jenuh lama-lama seperti ini.”
Hampir setiap hari, yang dikeluhkan hampir rata-rata siswa adalah jam sekolah yang terlalu padat. Bahkan tidak itu saja, tugas sekolah yang menumpuk, lalu tuntutan les di sana sini karena merasa masih kurang dalam hal pengajaran.
Timbul banyak pertanyaan sejak pertama kali diberlakukannya jam pelajaran yang bertambah menjadi 10 jam pelajaran. Mulai dari, “Untuk apa yang sepereti ini? Demi kemajuan? Tapi mengapa malah membebani murid dan guru?”, “ Efektifkah metode
sekolah dengan memulangkan anak-anaknya seetelah berakhir jam ke-10?”, “Lalu jika memang efektif, mengapa banyak di antara siswa-siswi yang masih mengambil bimbingan belajar, atau les, atau privat? Bukankah mereka mengambil bimbingan belajar dan yang lainnya karena merasa kurangnya pengajaran di sekolah?”, dan berbagai pertanyaan yang masih sama. Kompleks.
Melihat realitas yang ada, akankah pihak sekolah hanya bungkam saja? Padahal, sejak awal percobaan 10 jam mata pelajaran dengan kuantitas 1 jam pelajaran 45 menit sudah banyak mendapatkan protes sana-sini dari pihak siswa.
Seorang guru pernah memberikan pernyataan kepada guru lainnya, “Kasihan anak-anak itu, Pak. Saya amati, setelah jam 2 siang itu, mereka sudah terlihat lelah sekali.”
Dengan pernyataan di atas, dapat diartikan. Ternyata, tidak hanya dari pihak siswa saja yang sulit menerima 10 jam mata pelajaran yang “hanya” dilaksanakan dalam 3 hari itu. Untuk segelintir siswa yang kurang memiliki ketahan tubuhnya misalnya, mereka jadi sering sakit, dan konsekuensinya adalah tertinggal pelajaran. Tidak hanya itu, ternyata juga dampaknya adalah rasa jenuh yang menyebabkan siswa-siswi kelas X mengabaikan kegiatan ekstrakulikuler. Benar, bahwa sekolah adalah media belajar bagi siswa dan pengajran bagi guru. Tapi, kita tidak boleh mengabaikan begitu saja, pentingnya kegiatan ekstrakulikuler. Jika pelajaran-pelajaran di kelasa adalaha sebagai bekal materi, maka pelajaran di kegiatan ekstrakulikuler adalah bekal non-material yang tidak kalah pentingnya bagi siswa.
Benar, jika sekolah ingin memajukan taraf kualitas sekolahnya dengan beberapa kebijakan seperti di atas. Tapi, salahkah pihak sekolah mendengar keluh, uneg-uneg, atau sekedar curahan hati dari siswa-siswanya? Lalu meringankan kebijakannya?
Sayangnya, sampai detik ini. Karena keluh kritik yang mereka layangkan melalui KOTAK SARAN di depan ruang BK seperti tidak digubris oleh pihak sekolah. Mereka, jadi merasa seperti anak tiri “yang tidak diperhatikan.” Dan kekecewaan satu demi satu menumpuk.
Lalu, akankah terus seperti ini sikap sekolah terhadap anak didiknya?
“Ya Allah, capek banget nih pulang sore terus…”
“Ia, hampir enggak ada waktu untuk santai.”
“Pulang sore, trus les, trus masih ngerjain tugas, belum lagi belajarnya.”
“Jenuh lama-lama seperti ini.”
Hampir setiap hari, yang dikeluhkan hampir rata-rata siswa adalah jam sekolah yang terlalu padat. Bahkan tidak itu saja, tugas sekolah yang menumpuk, lalu tuntutan les di sana sini karena merasa masih kurang dalam hal pengajaran.
Timbul banyak pertanyaan sejak pertama kali diberlakukannya jam pelajaran yang bertambah menjadi 10 jam pelajaran. Mulai dari, “Untuk apa yang sepereti ini? Demi kemajuan? Tapi mengapa malah membebani murid dan guru?”, “ Efektifkah metode
sekolah dengan memulangkan anak-anaknya seetelah berakhir jam ke-10?”, “Lalu jika memang efektif, mengapa banyak di antara siswa-siswi yang masih mengambil bimbingan belajar, atau les, atau privat? Bukankah mereka mengambil bimbingan belajar dan yang lainnya karena merasa kurangnya pengajaran di sekolah?”, dan berbagai pertanyaan yang masih sama. Kompleks.
Melihat realitas yang ada, akankah pihak sekolah hanya bungkam saja? Padahal, sejak awal percobaan 10 jam mata pelajaran dengan kuantitas 1 jam pelajaran 45 menit sudah banyak mendapatkan protes sana-sini dari pihak siswa.
Seorang guru pernah memberikan pernyataan kepada guru lainnya, “Kasihan anak-anak itu, Pak. Saya amati, setelah jam 2 siang itu, mereka sudah terlihat lelah sekali.”
Dengan pernyataan di atas, dapat diartikan. Ternyata, tidak hanya dari pihak siswa saja yang sulit menerima 10 jam mata pelajaran yang “hanya” dilaksanakan dalam 3 hari itu. Untuk segelintir siswa yang kurang memiliki ketahan tubuhnya misalnya, mereka jadi sering sakit, dan konsekuensinya adalah tertinggal pelajaran. Tidak hanya itu, ternyata juga dampaknya adalah rasa jenuh yang menyebabkan siswa-siswi kelas X mengabaikan kegiatan ekstrakulikuler. Benar, bahwa sekolah adalah media belajar bagi siswa dan pengajran bagi guru. Tapi, kita tidak boleh mengabaikan begitu saja, pentingnya kegiatan ekstrakulikuler. Jika pelajaran-pelajaran di kelasa adalaha sebagai bekal materi, maka pelajaran di kegiatan ekstrakulikuler adalah bekal non-material yang tidak kalah pentingnya bagi siswa.
Benar, jika sekolah ingin memajukan taraf kualitas sekolahnya dengan beberapa kebijakan seperti di atas. Tapi, salahkah pihak sekolah mendengar keluh, uneg-uneg, atau sekedar curahan hati dari siswa-siswanya? Lalu meringankan kebijakannya?
Sayangnya, sampai detik ini. Karena keluh kritik yang mereka layangkan melalui KOTAK SARAN di depan ruang BK seperti tidak digubris oleh pihak sekolah. Mereka, jadi merasa seperti anak tiri “yang tidak diperhatikan.” Dan kekecewaan satu demi satu menumpuk.
Lalu, akankah terus seperti ini sikap sekolah terhadap anak didiknya?
Langganan:
Postingan (Atom)